PKHB - Pusat Konsultas dan Bantuan Hukum Universitas Islam Indonesia

You are here: Beranda
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Fenomena Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) dan Pengaruhnya Terhadap Gerakan Islam di Indonesia Cetak E-mail
Wednesday, 01 October 2014

Fenomena Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) dan Pengaruhnya Terhadap Gerakan Islam di Indonesia

Oleh

Ockhy Loedvian Z dan Winidyari Annisa Sari

            Islamic State of Iraq and Suriah menjadi fenomena di awal Tahun 2014 masyarakat internasional sering menyebutnya ISIS, gerakan tersebut akhir-akhir ini sangat menyita perhatian dunia berawal dengan tindakan pengusiran keluarga kristen di Irak dan melakukan kejahatan kemanusiaan lain seperti memenggal leher jurnalis Asing, menyandera tentara dan melakukan tindakan kekerasan bahkan militan ISIS memaksa orang-orang sesama Islam beraliran Syiah, Sunni, dan Yazidi pergi dari rumah mereka dan merampas harta-hartanya. (Sumber: Kompas/CAL, Diolah dari Reuters/AFP). Sedikit mengulas tentang pemahaman ISIS dari beberapa literatur yang ada ISIS dikenal karena memiliki interpretasi atau tafsir yang keras pada Islam sebagai bukti kebrutalan ISIS menghancurkan gereja, membunuh jurnalis, menyandera dan memaksa orang-orang yang tidak sepaham dengan ajarannya keluar dari rumah bahkan sampai keluar dari wilayah kekuasaannya dan lain-lain. Pemberontak di Irak dan Suriah ini telah menewaskan ribuan orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan lebih dari 2.400 warga Irak yang mayoritas warga sipil tewas sepanjang Juni 2014. Jumlah korban tewas ini merupakan yang terburuk dari aksi kekerasan di Irak dalam beberapa tahun terakhir. (http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam). 

Aksi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ini telah menyebabkan tak kurang dari 30.000 warga kota kecil ditimur Suriah harus mengungsi. Tokoh sentral di balik militan ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi. Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Front Al Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaeda di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan Al-Qaeda hingga tahun 2014. Namun karena misi berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah dan penggunaan aksi-aksi kekerasan, Al-Qaeda lalu tidak mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya lagi. Abu Bakar al-Baghdadi bahkan bersumpah untuk memimpin penaklukan Roma. Pemimpin militan ISIS Abu Bakar al-Baghdadi ini juga menyerukan umat Islam untuk tunduk kepadanya. Menurut Jurnalasia.com teori lain yang beredar soal ISIS adalah soal penguasaan wilayah. Masih jadi pertanyaan masyarakat Internasional bagaimana ISIS dengan mudah menguasai kota Mosul Irak dalam waktu beberapa jam. Ada spekulasi yang muncul bahwa banyak penduduk di kota tersebut bukan merupakan penduduk asli karena migrasi dari Suriah sehingga tak ada perlawanan berarti. Spekulasi lainnya mengenai dukungan dari Arab Saudi, Qatar dan Turki kepada ISIS karena negara-negara itu punya masalah dengan PM Irak Nouri al-Maliki. Namun tak ada yang bisa mengkonfirmasi soal ini sebab kini mereka sudah menguasai beberapa wilayah di Irak dan Suriah. Sebagian bahkan titik sentral. Terakhir adalah bendungan terbesar di Irak di bagian Sungai Tigris dikuasai ISIS. Bendungan ini juga menjadi sumber untuk kota Mosul Selatan. Karena menguasai bendungan, ISIS berpotensi bisa menyebabkan banyak kematian karena bencana banjir di kota Mosul. Hal ini juga berdampak terhadap potensi kekacauan di Baghdad. Sebelumnya, PBB sudah memperingatkan bahwa 200.000 warga sipil terperangkap dalam kondisi buruk setelah ISIS menguasai hampir seluruh kabupaten Sinjar dan Tal Afar di Provinsi Ninewa termasuk ladang minyak Ain Zala dan Batma. Wilayah ini berbatasan langsung dengan region Kurdistan, Irak. Perubahan Nama Kelompok militan tersebut awalnya dikenal dengan nama The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL). Mereka disebut sebagai militan Sunni yang mencoba merebut sejumlah wilayah dari penguasaan pemerintah Irak yang kini dikuasai Syiah. Lalu, setelah wilayah penguasaan itu semakin meluas hingga Suriah, mereka menamakan dirinya sebagai The Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Kini mereka mengubah nama lagi menjadi Islamic State atau khilafah atau Daulah Islamiyah. (http://jurnalasia.com/2014/08/05/tentang-isis-dan-teori-konspirasi-yang-menyelimutinya/). Tindakan ISIS ini membuat bangsa-bangsa di dunia bereaksi untuk menyatakan gerakan atau paham Negara Islam Irak dan Suriah terlarang. Begitu juga dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak gerakan islam yang bisa saja terpengaruh oleh Ideologi ISIS. Gerakan ISIS sangat mengejutkan, dengan peralatan dan personil militer yang cukup besar ISIS muncul dengan Ideologinya menciptakan sistem Kekhalifahan di seluruh dunia. Masih menurut Jurnal asia.com pemicu kehebohan ISIS di Tanah Air karena munculnya rekaman video dengan gambar sekelompok orang memakai busana siap ‘jihad’ yang meminta dukungan rakyat Indonesia. Seseorang bernama Abu Muhammad al Indonesi selaku juru bicara mengajak umat muslim di Indonesia berjuang dengan mereka. Video tersebut kemudian menuai tanggapan dari berbagai pihak. Sebagian kecil kalangan ada yang mendukungnya, namun sebagian besar menolak karena secara tegas bisa dikaitkan dengan upaya makar. Polisi pun memburu pria pemilik nama asli berinisial B tersebut. Bahkan, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko menilai keberadaan ISIS sebagai ancaman. Dia mengatakan, ISIS tidak boleh berkembang di Tanah Air. Di balik cerita soal ISIS, ternyata ada sisi lain yang berkembang luas di masyarakat. Mulai dari perubahan nama organisasi, hingga teori konspirasi yang menyelimutinya. Seperti apa ceritanya? Konspirasi AS, Inggris dan Israel Belakangan ini, ada dugaan kalau intelijen AS, Inggris, serta Mossad (Israel) berperan untuk melahirkan kelompok ISIS. Mereka sengaja melakukan itu untuk memecah kekuatan negara-negara Timur Tengah. Mantan peneliti Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat, Edward Snowden, mengatakan kalau tiga negara tersebut bekerjasama untuk menciptakan ISIS.( http://jurnalasia.com/2014/08/05/tentang-isis-dan-teori-konspirasi-yang-menyelimutinya/). Kita sebagai Masyarakat harus selektif menerima pemberitaan-pemberitaan dari media. Pemberitaan masuknya ISIS ke Indonesia dengan cepat menyebar dan membuat masyarakat bereaksi, seolah-olah ISIS sudah mulai masuk ke Indonesia padahal masih jadi pertanyaan besar apakah gerakan ISIS di Indonesia sudah masuk, sudah berkembang atau hanya merupakan misi Intelejen. Perlu diingat Indonesia mempunyai sejarah gerakan Islam Radikal yang panjang sebagai contoh gerakan seperti Darul Islam (DI), yang bermula dari pemberontakan-pemberontakan di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh pada tahun 1950an, kini merupakan jaringan yang bersifat fleksibel namun langgeng, terdiri dari hubungan-hubungan pribadi yang terjalin pada hampir semua pulau-pulau besar di nusantara. Pada akhir tahun 1960an muncul kembali gerakan Pergerakan Rumah Tangga islam (PRTI). Kemudian sekitar tahun 1975 adalah gerakan islam Komando Jihad (KOMJI). Kita ambil contoh serangan-serangan yang dilakukan KOMJI. Operasi-operasi Komando Jihad dimulai secara serentak di propinsi-propinsi Sumatra Utara, Selatan dan Barat, serta Lampung. Di Sumatra Utara, serangan pertama dilancarkan pada bulan Mei 1976, ketika sebuah granat yang gagal meledak dilemparkan ditengah-tengah acara Musabaqoh Tilawatil Quran yang diselenggarakan pemerintah di kota Pematang Siantar, Sumatra Utara. Hal ini diikuti dengan serangan bom pada Oktober 1976 di Rumah Sakit Baptis Immanuel di Bukitinggi, Sumatra Barat, dan di masjid Nurul Iman di Padang. ( Baca Daur Ulang Militan Indonesia: Darul Islam Dan Bom Kedutaan Australia Crisis Group Asia Report N°92, 22 Februari 2005. International Crisis Group) Jika kita menarik benang merah dari contoh gerakan islam diatas bukan tidak mungkin isu ISIS dapat memicu gerakan- gerakan islam seperti ini bermunculan kembali. Meskipun sampai hari ini permasalahan ISIS masih pada tahapan konflik regional di negara Timur tengah seperti di Iraq dan Suriah. Bisa dikatakan permaslahaan ISIS masih bisa di redam oleh negara ini. Pemerintah tetap harus waspada dan merangkul gerakan-gerakan islam yang ada agar tidak mudah terpengaruh oleh isu- isu Internasional yang menyangkut agama. Persolan-persoalan agama masih menjadi faktor utama mudahnya bangsa indonesia di pecah belah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Secara hukum tindakan ISIS termasuk kegiatan terorisme internasional sudah terbukti sangat merugikan kepentingan bangsa dan negara dimana korban mati atau luka berat sangat banyak dan kerusakan bangunan serta fasilitas publik tidak dapat dihindarkan sehingga sulit untuk tidak memberikan beban pertanggungjawaban yang sangat berat terhadap para pelaku terorisme internasional tersebut. Di dalam Konvensi Internasional tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme (1999) dan Kovensi Internasional tentang Pemberantasan Pemboman oleh Teroris (1997) telah dibedakan antara terorisme internasional dan terorisme domestik dimana ketentuan Pasal 3 dari kedua konvensi tersebut menegaskan bahwa ketentuan dalam konvensi tidak berlaku terhadap kegiatan seseorang yang terjadi disatu negara dan dilakukan oleh warga negara yang bersangkutan kecuali terlibat yurisdiksi negara lain didalamnya. Di Indonesia di tuangkan di dalam UU No.15/2003 tentang Terorisme. Jika ada yang terlibat baru bisa dikenakan tindakan hukum. Yang harus menjadi catatan masih banyak peristiwa salah tangkap pelaku terorisme seperti yang diberitakan Viva News tahun 2011 silam “ Markas Besar Kepolisin RI membebaskan dua terduga teroris yang berasal dari dua kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Korban salah tangkap ini berinisial E warga asal Dusun Sinar Galih, Desa Sinar Tanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Dia ditangkap tim Densus pada Sabtu 8 Oktober 2011 sekitar pukul 23.30 WIB. Sementara, korban salah tangkap lainnya berinisial H warga asal Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Dia ditangkap pada Minggu 9 Oktober 2011 pukul 16.00 WIB.” (http://nasional.news.viva.co.id/news/read/256663-polisi-bebaskan-dua-terduga-teroris) aparat sudah seharusnya bijak dan berhati-hati kedepannya untuk menentukan siapa pelaku dan siapa yang terlibat aksi-aksi terorisme. Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia mempunyai andil besar baik secara nasional maupun internasional untuk membendung masuknya gerakan ISIS. Melalui peran organisasi keagamaan yang sudah ada di Indonesia pemerintah dapat memberikan arahan untuk membendung gerakan ISIS. Dengan begitu pemerintah dapat merangkul sendi-sendi organisasi keagamaan untuk membendung berkembangnya ISIS.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >